« Angela White: Unburied DeadZombie »

Zombie (2)

05/04/12

  02:40:00 am, by hanzpk   , 928 words  
Categories: Imagine

Zombie (2)

[Hanya untuk dewasa!] [bersambung dari sini]

Aku harus berterima kasih kepada refleks parnoku, karena tepat pada saat zombie itu melompat saat itu pula aku meloncat ke belakang. Sadar akan apa yang baru saja terjadi, cepat-cepat aku melebarkan jarak dengan zombie itu. Mataku melirik ke sekeliling sekaligus untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai sebagai senjata. Sial! Aku tak menemukan satupun, sementara zombie yang terjerembab tadi sudah mulai bangkit berdiri dan berbalik dengan limbung ke arahku. Kulihat zombie-zombie dari arah pelataran mesjid pun sudah berjarak dua puluh meter dari tempatku berdiri. Cepat sekali! Dalam kepanikan untuk membuka gembok pagar tadi aku telah meremehkan waktu. Sial!

Kulihat arah belakang, arah menuju jembatan dua. Masih kosong. Arah terminal. Masih kosong juga. Aku memilih yang pertama karena lampu jalan masih ada menerangi. Agak tergesa aku berjalan sambil sesekali mengawasi zombie-zombie yang berjalan ke arahku. Kurang ajar! Tidak ada lagi yang bisa dijadikan umpan. Aku satu-satunya daging segar yang berkeliaran sepagi ini. Tiba-tiba aku mendapat ide. Ya betul, penjual soto tidak akan membutuhkan kiosnya dalam waktu yang lama, apabila ternyata masih ada waktu. Bergegas kupilah-pilah kayu dan bambu yang bisa dijadikan senjata. Sempurna!

Zombie-zombie sudah berjarak lima belas meter dariku. Sementara si dulunya-penjaga-warung sudah berjarak lima meter dariku. Apakah aku sempat menghajar yang satu ini dan membuka gembok? Tak sempat kuberpikir lagi karena zombie tersebut sudah semakin mendekat. Langsung saja kuayunkan kayu itu sekuat-kuatnya ke arah samping kepalanya. Prak! Zombie itu seakan-akan tidak merasakan apa-apa dan terus berjalan ke arahku, walaupun sekarang lebih limbung karena lehernya bengkok ke arah kiri. Tanganku masih gemetaran karena kerasnya benturan. Kurasakan beberapa bagian telapak tanganku berdarah. Tak sempat aku mengkuatirkan hal itu. Kuayunkan lagi sekeras-kerasnya ke tempat yang sama. Zombie tersebut terjatuh namun segera berusaha berdiri lagi.

Panik segera merambatiku. Karena zombie-zombie yang dibelakang ternyata sudah berjarak tujuh meter dariku. Kulempar kayu itu kearah zombie yang sedang berusaha berdiri, membuatnya tersungkur lagi. Segera kuberlari ke arah jembatan dua. Bruk! Dari samping kananku yang-dulunya-penjaga-malam menubrukku. Tak sempat kuberpikir lagi ketika rahangnya terbuka lebar dan mengoyak perutku. Jeritan menyayat hati terdengar.

Aku terbangun dengan keringat yang mengalir. Mimpi yang mengerikan! Aku terlalu banyak membaca berita tentang zombie. Kulihat jam pada hapeku. Masih jam setengah empat. Rasa telapak tangan yang teriris masih membekas. Kuhidupkan lampu dan termenung sejenak. Sebaiknya aku pakai sarung tangan keluar jogging pagi ini. Aku berpikir untuk membawa tongkat aluminium. Kuurungkan. Masak jogging sambil bawa tongkat. Segera kupakai sepatu dan bersiap untuk turun. Tepat pada saat itulah kudengar jeritan mengerikan dari speaker mesjid. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian sepi.

Mimpiku telah menjadi kenyataan.

“Bangun!” Setengah berbisik, setengah berteriak kugedor pintu kamar Doni.

“Hah? Ada apa?” Doni membuka pintu dengan ekspresi cemas setengah ngantuk.

“Loe denger gak tadi itu?”

“Iyeh ada apa ya?”

“Zombie.”

“Apa? Zombie? Ah om...mana ada?”

“Loe gak dengar berita apa? Tentang wabah virus di Amerika? Gak liat video di youtube? Zombie nya udah nyampe sini!”

Doni mengernyitkan dahi sedikit tampaknya tak ingin menyinggungku. Tapi dia terlihat sangsi.

Tak waktu lagi untuk bermain-main.

“Pake sepatu. Ayo keluar kalo loe gak percaya.”

Aku masih tidak habis pikir kenapa waktu itu aku masih berniat untuk keluar memastikan.

Ketika kami berdua keluar dari pintu pagar, kali ini kubiarkan terbuka, bau busuk menyengat sudah tercium jelas. Tidak ada alasan lagi untuk tidak mempercayai mimpi buruk ini. Bergegas kuajak Doni untuk segera masuk. Namun dia masih penasaran. Penasaran yang akan segera terjawab dengan tuntas. Terlalu tuntas malah.

Si penjaga warung yang sudah menjadi zombie (kenapa aku bisa melupakan penjaga warung itu?) melompat dan secara refleks aku menghindar, namun tidak Doni. Dia tidak bermimpi tentang zombie dan penjaga warung. Tidak. Dia tidak siap sama sekali ketika zombie itu mengoyak punggungnya, melahap tangannya dan mengigit lehernya. Teriakan Doni menyayat hati. Ngantuknya hilang seketika dan digantikan oleh tidur yang abadi. Oh tidak, bukan tidur yang abadi, karena tak beberapa lama kemudian ketika jeritan itu sudah berhenti, mata Doni kembali terbuka. Mata yang seakan diliputi oleh penyakit katarak. Selimut tipis putih dengan garis-garis hitam. Kosong.

Aku tak sempat menolongnya. Bagaimana mungkin? Senjata saja aku tidak punya. Namun ketika kubersiap untuk masuk dengan mengunci pintu rapat-rapat, penjual mie ayam di seberang kos baru saja datang dengan motornya. Abun, penjual mie itu, terbelalak menatap kejadian yang berlangsung di hadapannya. Tak mungkin kutinggalkan dia di sana, sementara belasan zombie dari pelataran mesjid sudah mengarah ke sini mendengar jeritan Doni tadi. Bagus sekali! Kepalaku pusing memikirkan hal ini.

Segera kuberlari menghampirinya dan bergegas membantunya membuka pintu. Aku merasa bersalah menggunakan kesempatan pada saat zombie tersebut menghabisi Doni, namun tidak ada yang bisa kulakukan. Satu cakaran, satu gigitan sudah cukup untuk menularkan virus zombie. Walaupun Doni tidak mati saat itu juga, namun beberapa jam atau beberapa hari atau beberapa menit (aku tidak tau pasti lama pembiakan virus tersebut) kemudian Doni akan juga berubah menjadi zombie. Dan aku tidak ingin mengambil resiko itu terjadi pada saat aku terlelap di sebelah kamarnya.

“Koh, cepat masuk! Itu zombie, koh.”

Tidak seperti Doni, ternyata koh Abun mendengarkan berita dengan seksama. “Zombie? Wabah di Amerika itu?”

Anggukan cepat-cepat dariku lah yang dibutuhkan koh Abun, karena dia segera bergerak cepat membuka pintu, mendorong motornya masuk ke dalam kios dan menutup kembali rapat-rapat. Semua hanya dalam hitungan detik. Segera kubantu dia dalam mengganjal pintu dengan meja-meja makan yang ditumpuk-tumpuk.

Koh Abun bergerak cepat. Setelah menumpuk meja makan di depan pintunya, dia bergerak ke rumah sebelah yang terhubung dengan kiosnya dan juga mengganjal pagar besi depan dengan meja-meja dan lemari pajangan.

“Ayo cepet!”

Seruan itu tidak kutunggu untuk kedua kalinya, karena bau busuk yang menyengat sudah semakin merajalela dan erangan konyol menyeramkan itu sudah bergerak mendekati...

[bersambung...]

No feedback yet